Pasuruan – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi gawat darurat kesehatan dimulai dari lingkungan keluarga. Melalui Program IBU TANGGAP (Ibu Terlatih Antisipasi Gawat Darurat): Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga dalam Kesiapsiagaan Gawat Darurat Keluarga, sebanyak 48 ibu rumah tangga di Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, mendapatkan pelatihan edukasi dan simulasi pertolongan pertama pada 15–16 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Mojoparon tersebut merupakan bagian dari Program Hibah Pengabdian Pemula dari LPPM Universitas Jember yang diketuai oleh Nadia Rohmatul Laili, S.Kep., Ns., M.Kep., dosen Prodi D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan, Universitas Jember. Bersama tim pengabdian, program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri ibu rumah tangga sebagai garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama sebelum korban mendapatkan penanganan tenaga kesehatan. Selain diikuti oleh para ibu rumah tangga, kegiatan ini juga melibatkan kader kesehatan desa, bidan desa, serta Kepala Desa Mojoparon sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap kondisi kegawatdaruratan di tingkat keluarga.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi mengenai penanganan berbagai kondisi kegawatdaruratan yang sering dijumpai di rumah, antara lain tersedak, kejang, luka, perdarahan, hingga keracunan makanan. Tidak hanya menerima edukasi secara teori, peserta juga mengikuti praktik dan simulasi menggunakan skenario kasus sehingga mampu mempraktikkan langkah-langkah pertolongan pertama secara langsung dengan pendampingan tim.
Metode pembelajaran yang interaktif membuat peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan mempraktikkan teknik pertolongan pertama secara bergantian. Simulasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan masyarakat dalam mengambil tindakan yang cepat, tepat, dan aman ketika menghadapi keadaan darurat di lingkungan keluarga.
Ketua Tim Pengabdian, Nadia Rohmatul Laili, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa keluarga merupakan pihak pertama yang hampir selalu berada di lokasi saat terjadi kegawatdaruratan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas ibu rumah tangga menjadi langkah strategis untuk menurunkan risiko komplikasi maupun kecacatan akibat keterlambatan penanganan.
“Sebagian besar kejadian gawat darurat terjadi di rumah, sehingga keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai penolong pertama. Melalui Program IBU TANGGAP, kami ingin membekali ibu rumah tangga dengan pengetahuan dan keterampilan yang benar agar mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat, tepat, dan aman sebelum mendapatkan penanganan medis. Harapannya, program ini dapat menciptakan keluarga yang lebih tanggap dan masyarakat yang semakin siap menghadapi kondisi darurat,” ujar Nadia.

Kepala Desa Mojoparon, Moh. Soleh menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap pelatihan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat di desa.
“Kami sangat mengapresiasi Program IBU TANGGAP karena memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Pengetahuan seperti ini sangat dibutuhkan oleh keluarga, khususnya para ibu yang setiap hari mendampingi anggota keluarganya. Semoga kegiatan ini menjadi awal terbentuknya masyarakat Desa Mojoparon yang semakin sigap dan mandiri dalam menghadapi keadaan darurat kesehatan,” ungkap Moh. Soleh.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Putri Ageta, salah seorang peserta mengaku memperoleh banyak pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dipelajari.
“Selama ini kami sering panik ketika melihat anggota keluarga mengalami keadaan darurat, misalnya tersedak atau luka. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya menjadi lebih memahami apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Simulasi yang diberikan sangat mudah dipahami sehingga membuat kami lebih percaya diri untuk memberikan pertolongan pertama di rumah,” tutur Putri.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim pengabdian masyarakat tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membekali peserta dengan buku saku pertolongan pertama pada kegawatdaruratan keluarga yang berisi panduan praktis penanganan berbagai kondisi darurat sehari-hari. Selain itu, setiap peserta juga menerima paket P3K keluarga yang dapat digunakan sebagai sarana pendukung dalam memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat di rumah.
Pemberian buku saku dan paket P3K tersebut diharapkan mampu memperkuat implementasi hasil pelatihan sehingga pengetahuan yang telah diperoleh tidak berhenti pada kegiatan edukasi semata, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini sekaligus menjadi upaya mendorong terbentuknya keluarga yang mandiri dan siap menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan sebelum mendapatkan penanganan dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Program IBU TANGGAP menjadi salah satu bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan keluarga dan peningkatan kesehatan masyarakat. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, diharapkan terbentuk budaya kesiapsiagaan yang mampu meningkatkan keselamatan keluarga dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan sehari-hari.
Ke depan, tim pengabdian berharap Program IBU TANGGAP dapat direplikasi di berbagai desa lain sehingga semakin banyak keluarga Indonesia yang memiliki kemampuan memberikan pertolongan pertama secara benar. Dengan dukungan media edukasi berupa buku saku dan ketersediaan paket P3K di setiap rumah, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki sarana yang memadai untuk memberikan pertolongan pertama secara cepat, tepat, dan aman. Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat mampu membangun budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan demi terwujudnya keluarga Indonesia yang sehat, tangguh, dan responsif terhadap situasi gawat darurat.
