News

Mahasiswa Universitas Jember Kampus Lumajang Sambut Gembira Kuliah Luring

Lumajang, 29/08/2022

Universitas Jember resmi memberlakukan kembali perkuliahan secara luring di semester gasal tahun akademik 2022/2023. Semenjak tanggal 22 Agustus 2022 denyut kehidupan kampus kembali berdetak, termasuk kegiatan perkuliahan di Program Studi Diploma Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember kampus Lumajang. Setelah melaksanakan pembelajaran secara online selama kurang lebih dua tahun, kini mahasiswa bisa merasakan kembali bertemu dengan kolega dan dosen. Tentu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Rasa lega dan bahagia ditunjukkan oleh mahasiswa, seperti yang disampaikan oleh Felia Rifka. “Sebenarnya saya sudah bosan dengan perkuliahan online, apalagi dari semester satu saya tidak pernah merasakan bangku perkuliahan secara langsung, jadi kayak pengen aja gitu kuliah kembali bersama kawan-kawan,” ujar Felia Rifka saat ditemui di sela-sela perkuliahan. Felia Rifka yakin keinginannya ini juga dirasakan mahasiswa lainnya, pasalnya kuliah tidak hanya soal menuntut ilmu tapi juga mengenai bagaimana membangun relasi, mencari pengalaman serta relasi.

WhatsApp Image 2022-08-29 at 10.11.26 AM
WhatsApp Image 2022-08-29 at 10.11.36 AM (1)

Pendapat Felia Rifka didukung sesama mahasiswa, Nabilah Ahmadini. “Senang banget akhirnya Universitas Jember bisa mengadakan kuliah offline lagi, soalnya kalau online terus saya bingung bagaimana mencari kawan dan membangun relasi. Tahu sendiri lah jika kuliah online hanya bisa ketemu di dunia maya. Mau kemana-mana mager hahaha. Dengan kuliah luring maka saya bisa turut beraktivitas dengan mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan organisasi intra dan ekstra di kampus. Jadi bersyukur banget bisa kembali kuliah offline karena bisa merasakan persahabatan lagi,” ungkap Nabilah Ahmadini.

Tentu saja perkuliahan daring maupun luring memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Dengan perkuliahan online maka mahasiswa dapat mengatur waktu dan tempat dengan fleksibel, hemat pengeluaran keuangan karena tak harus ke kampus. Namun  perkuliahan online terkesan belajar jadi membosankan. “Kuliah online sebenarnya enak, kita bisa melakukan kuliah dimana saja. Tapi ya gitu bikin males belajar. Kalau kuliah offline gak enaknya kita harus selalu siap ke kampus, tapi enak saja suasananya kayak hidup gitu. Jadi kalau disuruh pilih saya lebih suka offline,” tutur Luluk Mauliddiyah. “Enak kuliah offline sih, lebih bisa merasakan kuliah. Kalau online nggak kerasa vibes mahasiswanya,” imbuh  Rehulina Israferli.

“Sebenarnya online dan offline sama-sama memiliki sisi negatif dan positif, jika kita kuliah online maka secara tidak langsung saya bisa melakukan kuliah sambil mengerjakan perkejaan yang lain, dan juga hemat uang bensin juga biaya fotocopy akan tetapi dengan online saya kadang kurang paham dengan materi dan sangat membosankan. Jika melakukan perkuliahan offline maka kita harus siap-siap untuk bolak balik kampus dan menambah biaya bensin akan tetapi dengan dengan kuliah luring saya lebih merasa mampu memahami materi dengan baik. Dan yang pasti bisa bisa ketemu sesama kawan, ini sangat menyenangkan. Jadi yah gimana-gimana enakan kuliah offline,” kali ini kata Deka Raudoh.

Dari pendapat beberapa mahasiswa ini dapat disimpulkan bahwa perkuliahan offline diperlukan untuk mengembalikan nuansa belajar mengajar, memberikan pengalaman menuntut ilmu, dan menjalin sebanyak-banyaknya kegiatan positif daripada saat kuliah offline yang dinilai membosankan. Namun, akibat dua tahun merasakan kuliah online akibat efek dari pandemi Covid-19, maka mau tidak mau  mahasiswa harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan baru. Adaptasi menuju offline akan memberikan tantangan lagi pada mahasiswa, tetapi tuntutan akan kualitas pendidikan yang harus dibenahi tidak dapat terelakkan.

Sebelumnya dalam berbagai kesempatan, Rektor Universitas Jember menjelaskan pandemi Covid-19 mengubah banyak sendi kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Salah satu pelajaran dari pandemi Covid-19 adalah makin berkembangnya sistem belajar mengajar secara daring. “Hikmah pandemi Covid-19 adalah kita harus selalu siap menghadapi perubahan yang kian kerap terjadi di berbagai bidang. Kedua, harus adaptif karena setiap perubahan menuntut penyesuaian. Maka perkuliahan hibrida yang menggabungkan kuliah luring dan daring kini menjadi keniscayaan,” pesan Iwan Taruna. (Risma Wiyanda)