JEMBER,30 April 2026 – Peta persaingan tenaga kerja kesehatan di level global kini memasuki fase yang kian sengit. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Keperawatan Universitas Jember (UNEJ) mengambil langkah strategis dengan memperluas jejaring internasional. Melalui seremoni penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), institusi ini resmi menggandeng PT Bali Sanitya Global untuk membuka pintu lebar-lebar bagi perawat profesional Indonesia menuju pasar kerja di Republik Federal Jerman.

Dekan Fakultas Keperawatan UNEJ, Dr. Rondhianto, S.Kep., Ns., M.Kep., dalam sambutannya menekankan bahwa di tengah ketatnya persaingan global, memiliki lulusan yang hanya sekadar pandai secara teori tidaklah cukup. Dibutuhkan tenaga ahli yang terampil, cekatan, dan siap pakai untuk menghadapi standar pelayanan kesehatan internasional yang tinggi.

"Memiliki lulusan tenaga yang terampil tetapi tanpa kesempatan peluang kerja adalah sebuah hal yang sulit, apalagi di tengah persaingan global yang tanpa batas ini," ujar Dr. Rondhianto.

Beliau menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk solusi konkret dalam menyalurkan lulusan. Selain itu, langkah ini menjadi tonggak penting dalam pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 2, yakni memastikan lulusan mendapatkan pekerjaan yang layak, dalam hal ini merambah karier profesional di luar negeri.

Gayung bersambut, perwakilan dari PT Bali Sanitya Global, Ni Nyoman Junianti, S.Tr.M., menyatakan optimisme serupa. Pihaknya berkomitmen untuk memfasilitasi lulusan Prodi Ners UNEJ agar bisa segera terserap di pasar kerja Jerman. Langkah ini diharapkan secara signifikan mampu mempersingkat masa tunggu kerja bagi para ners muda.

"Melalui MoU ini, kami tidak hanya menyalurkan tenaga kerja, tetapi juga berharap dapat memberikan masukan kepada manajemen fakultas mengenai kualifikasi dan kebutuhan riil industri kesehatan global. Dengan begitu, kurikulum yang ada akan semakin relevan," ungkap Ni Nyoman.

Acara ini juga disaksikan oleh Dr. Rokhani, S.P., M.Si., selaku Kepala UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan UNEJ. Ia memandang sinergi antara manajemen akademis dan stakeholder industri sebagai kunci keberhasilan jangka panjang.

"Diharapkan tercipta hubungan simbiosis mutualisme. Pihak universitas mendapatkan kepastian penyaluran lulusan, sementara pihak perusahaan mendapatkan pasokan tenaga kesehatan yang terstandarisasi dengan baik," tegas Dr. Rokhani.

Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa Fakultas Keperawatan UNEJ tidak hanya fokus pada proses pendidikan di dalam kelas, tetapi juga bertanggung jawab secara moral dan profesional dalam mengantar alumninya bersinar di panggung dunia. Dengan Jerman sebagai destinasi utama, para perawat Indonesia kini memiliki kesempatan emas untuk membuktikan kualitas mereka di jantung Eropa. (m3tr0)