Pasuruan – Tidak semua kasus stroke diawali dengan gejala yang dikenali masyarakat. Keterlambatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan masih menjadi salah satu penyebab tingginya risiko kecacatan akibat stroke. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jember yang diketuai Ida Zuhroidah menghadirkan Program DESA FAST (Face, Arm, Speech, Time) di Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Mojoparon ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri atas kader kesehatan desa, bidan desa, anggota PKK, dan Ketua PKK Desa Mojoparon. Melalui pelatihan ini, peserta dipersiapkan menjadi edukator kesehatan yang mampu mengenalkan tanda-tanda awal stroke kepada masyarakat sekaligus mendorong deteksi dini di lingkungan keluarga.

 

Program DESA FAST merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. Peserta memperoleh materi mengenai faktor risiko stroke, pengenalan gejala menggunakan metode FAST (Face, Arm, Speech, Time), serta langkah yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang yang diduga mengalami stroke. Penyampaian materi dikemas secara interaktif melalui diskusi, simulasi, dan berbagi pengalaman sehingga peserta lebih mudah memahami sekaligus mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh. Selain pelatihan, tim pengabdian juga melaksanakan skrining sederhana faktor risiko stroke yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Pemeriksaan tersebut menjadi langkah awal untuk membantu peserta mengenali kondisi kesehatannya sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengendalikan faktor risiko stroke melalui pola hidup sehat. Ketua pelaksana kegiatan, Ida Zuhroidah, mengatakan bahwa keberhasilan pencegahan stroke tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat. “Kader kesehatan, bidan desa, dan ibu-ibu PKK merupakan mitra yang sangat dekat dengan masyarakat. Melalui Program DESA FAST, kami ingin memperkuat kapasitas mereka agar mampu menjadi agen edukasi yang dapat mengenalkan tanda awal stroke, mengajak masyarakat melakukan deteksi dini, serta mendorong keluarga segera mencari pertolongan ketika muncul gejala stroke,” ujarnya.

Ketua Kader Kesehatan Desa Mojoparon, Hj. Masruroh, mengaku pelatihan tersebut memberikan bekal yang sangat bermanfaat bagi para kader. “Materi yang diberikan mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Kami menjadi lebih percaya diri untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama mengenai tanda awal stroke dan pentingnya segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan,” katanya. Hal senada disampaikan Ketua PKK Desa Mojoparon, Hj. Nur Azizah. Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan keluarga sehingga pengetahuan mengenai stroke perlu dimiliki oleh setiap anggota PKK. “Sering kali ibu menjadi orang pertama yang mengetahui ketika ada anggota keluarga yang mengalami keluhan kesehatan. Dengan memahami tanda-tanda stroke, kami dapat mengambil keputusan lebih cepat sehingga penanganan tidak terlambat,” tuturnya. Sementara itu, Humrotin, salah seorang kader kesehatan desa, menilai metode FAST sangat mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kegiatan penyuluhan. Metode FAST sederhana dan mudah diingat. Kami siap menyampaikan kembali informasi ini kepada masyarakat melalui kegiatan posyandu maupun saat melakukan kunjungan ke rumah warga,” ungkapnya. Bagi Munik, anggota PKK yang mengikuti kegiatan, pelatihan ini memberikan manfaat yang langsung dirasakan karena peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga mengetahui kondisi kesehatanny a melalui pemeriksaan yang dilakukan.”Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami mendapatkan ilmu baru sekaligus mengetahui kondisi kesehatan kami. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan agar masyarakat semakin peduli terhadap pencegahan stroke,”.

Melalui Program DESA FAST, Universitas Jember bersama Pemerintah Desa Mojoparon berharap kader kesehatan, bidan desa, dan anggota PKK dapat menjadi penggerak edukasi kesehatan di masyarakat. Pengetahuan yang telah diperoleh diharapkan terus disebarluaskan kepada keluarga dan warga sekitar sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu mengenali gejala stroke sejak dini, mengendalikan faktor risikonya, dan segera mencari pertolongan medis ketika menghadapi keadaan darurat. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan desa yang lebih sehat, tanggap, dan mandiri dalam pencegahan stroke.