Jember – Fakultas Keperawatan Universitas Jember sukses menyelenggarakan ISC (International Student Conference) 2026 pada 24 September 2026 di Gedung Auditorium Universitas Jember. Mengusung tema “Navigating Mental Health in the Modern Era: Challenges, Coping Mechanisms, and Support Systems for Young Healthcare Professionals”, konferensi internasional ini menjadi wadah pertukaran ilmu pengetahuan, pengalaman, serta penguatan jejaring akademik bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan muda dari berbagai negara. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti terkemuka dari Thailand, Taiwan, dan Australia yang membahas tantangan kesehatan mental tenaga kesehatan di tengah kemajuan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Konferensi ini menghadirkan pembicara internasional dari Roi Et Rajabhat University, Thailand, yakni Assist. Prof. Jumrusluk Charoensaen, Assist. Prof. Dr. Ueamporn Summart, Assist. Prof. Boonyada Wongpimoln, Assist. Prof. Atiya Phasri, dan Kunthida Loeskanchana. Selain itu, hadir pula Prof. Huan Fang Lee dari National Cheng Kung University, Taiwan, serta Prof. Bronwyn Everett dari University of Wollongong, Australia. Melalui berbagai sesi ilmiah, para narasumber membahas perkembangan isu mental health, strategi membangun resilience bagi tenaga kesehatan muda, hingga pentingnya sistem dukungan yang kuat dalam lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Forum ini menjadi ajang diskusi ilmiah yang relevan dengan kebutuhan dunia nursing dan keperawatan masa kini.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Jember, Dr. Rondhianto, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan bertaraf internasional tersebut. Menurutnya, ISC 2026 bukan sekadar konferensi akademik, melainkan bentuk nyata komitmen institusi dalam berbagi pengetahuan dan membangun kolaborasi global. beliau menegaskan bahwa di era digital yang menuntut perubahan begitu cepat, persoalan kesehatan semakin kompleks dan memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, lulusan keperawatan tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik dan klinis, tetapi juga harus memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi serta empati dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Dr. Rondhianto juga menekankan bahwa transformasi pelayanan kesehatan akibat kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan kompetensi manusiawi. Menurutnya, tantangan kesehatan mental yang dihadapi tenaga kesehatan saat ini membutuhkan dukungan multidisiplin dan kemampuan interpersonal yang kuat. Kehadiran forum internasional seperti ISC 2026 menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai berbagai pendekatan pelayanan kesehatan di tingkat global, termasuk pengembangan konsep agronursing, yang kini semakin relevan dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat berbasis lingkungan dan komunitas.
Sementara itu, sambutan dari Rektor Universitas Jember yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Drs. Slamin, M.Comp.Sc., Ph.D. turut memberikan perspektif mengenai perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia kesehatan terutama bidang keperawatan. Beliau mengapresiasi Fakultas Keperawatan yang secara konsisten menghadirkan kegiatan akademik berskala internasional sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, profesi perawat akan tetap menjadi profesi yang sangat penting meskipun perkembangan AI berlangsung sangat pesat. Faktor human touch dalam proses perawatan pasien merupakan aspek fundamental yang tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai alat bantu yang dapat memberikan rekomendasi berdasarkan metodologi dan evidence terkini dalam perawatan pasien. Namun demikian, kemampuan untuk memahami kondisi emosional pasien, memberikan dukungan psikologis, serta membangun hubungan terapeutik tetap menjadi keunggulan utama profesi perawat, oleh karenanya beliau berpesan kepada mahasiswa untuk senantiasa mengupdate pengetahuan dan keahlian terkini, melalui pelatihan maupun seminar-seminar yang diadakan tiap tahunnya.
Usai rangkaian sambutan, kegiatan ISC 2026 secara resmi dibuka melalui prosesi pemukulan gong oleh jajaran pimpinan Universitas Jember dan Fakultas Keperawatan sebagai simbol dimulainya konferensi internasional tersebut. Momentum ini sekaligus menandai dimulainya berbagai agenda akademik yang telah disiapkan panitia, mulai dari seminar ilmiah hingga pameran inovasi kesehatan. Setelah seremoni pembukaan, para pimpinan universitas, tamu undangan, dan narasumber internasional melakukan peninjauan expo yang diselenggarakan di area sekitar auditorium. Expo tersebut menampilkan beragam hasil penelitian, inovasi teknologi kesehatan, pengembangan praktik nursing, serta karya mahasiswa yang berkaitan dengan isu kesehatan masyarakat dan agronursing sebagai salah satu keunggulan yang terus dikembangkan Universitas Jember.
Sementara itu, di ruang utama auditorium, rangkaian International Student Conference 2026 berlanjut dengan sesi presentasi dan diskusi ilmiah yang dibawakan oleh para pembicara internasional. Para peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi kesehatan tampak antusias mengikuti paparan mengenai tantangan mental health di era modern, strategi membangun resilience bagi tenaga kesehatan muda, serta pentingnya dukungan institusi dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut semakin menegaskan pesan utama konferensi bahwa di tengah pesatnya kemajuan zaman dan transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi, profesi perawat tetap membutuhkan keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan klinis, kemampuan beradaptasi, serta sentuhan empati yang menjadi fondasi utama pelayanan keperawatan profesional.




