Jember — Sirine darurat menggema di lingkungan Fakultas Keperawatan Universitas Jember, Jumat pagi (6/9), menandai dimulainya simulasi evakuasi dalam rangka Kampus Siaga Bencana (KSB) 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas tanggap bencana bagi mahasiswa dan civitas akademika, dari tahap mitigasi hingga evakuasi.

Begitu sirine berbunyi, seluruh peserta segera meninggalkan ruangan dan menuju titik kumpul aman sesuai prosedur evakuasi. Simulasi ini dirancang menyerupai kondisi darurat nyata, dengan skenario kebakaran sebagai ancaman utama. Kecepatan dan ketertiban peserta menjadi indikator keberhasilan latihan.

Setelah evakuasi selesai, kegiatan berlanjut dengan demonstrasi pemadaman api. Dua metode diperagakan secara langsung: penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan teknik tradisional menggunakan karung goni basah. Mahasiswa diberi kesempatan mencoba langsung, didampingi oleh Ns. Baskoro Setioputro , M.Kep. Selaku pembina Unit Kegiatan Mahasiswa KANDAGA.

Dekan Fakultas Keperawatan, Dr. Rondhianto, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan secara terpisah bahwa kegiatan ini bukan hanya simulasi, tetapi bagian dari pendidikan kebencanaan yang terintegrasi. “Kami ingin membentuk mahasiswa yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga tanggap dan siap berkontribusi dalam situasi darurat di masyarakat,” ujarnya.

KSB 2025 menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan bencana dapat ditanamkan sejak dini melalui pendidikan tinggi. Dengan pendekatan partisipatif dan praktik langsung, Fakultas Keperawatan Universitas Jember menunjukkan komitmennya dalam membangun kampus yang aman, responsif, dan berdaya tahan terhadap ancaman bencana.