PASURUAN – Semangat religius, keilmuan, dan kebangsaan mewarnai Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan Universitas Jember, Kamis (22/10/2026). Sejak pukul 07.15 WIB, Koordinator Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh mahasiswa berkumpul dalam satu semangat, yaitu terus belajar, memperkuat karakter, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 08.30 WIB tersebut dikemas melalui rangkaian acara bernuansa religius dan kebangsaan. Setelah pembukaan oleh pembawa acara, kegiatan dilanjutkan dengan tilawah ayat suci Al-Qur'an, tausiyah, istighosah dan doa bersama, serta melantunkan Mars Hari Santri dan lagu Syubbanul Wathon secara bersama-sama.
Koordinator Program Studi D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan Universitas Jember, Ns. Mukhammad Toha, S.Kep., M.Kep., dalam tausiyahnya mengajak mahasiswa memaknai santri tidak hanya berdasarkan tempat seseorang menuntut ilmu. Menurut beliau, nilai kesantrian juga dapat hidup di lingkungan perguruan tinggi melalui kesungguhan belajar, penghormatan terhadap ilmu dan guru, pembentukan akhlak, serta komitmen menggunakan ilmu bagi kepentingan masyarakat.
“Santri tidak harus selalu dimaknai sebagai mereka yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Di kampus pun kita dapat membawa semangat seorang santri, yaitu semangat untuk terus belajar, menghormati ilmu dan guru, menjaga akhlak, serta tidak pernah merasa selesai dalam mengembangkan pengetahuan. Terlebih sebagai mahasiswa keperawatan, ilmu yang kita pelajari pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi pasien, keluarga, dan masyarakat. Di situlah salah satu hakikat ilmu yang bermanfaat,” ungkap Ns. Mukhammad Toha, S.Kep., M.Kep.
Beliau menegaskan bahwa semangat belajar tidak seharusnya berhenti pada pencapaian nilai akademik ataupun sekadar menyelesaikan pendidikan. Mahasiswa perlu terus mengembangkan kompetensi agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata dalam pelayanan kesehatan.
“Belajar jangan hanya berorientasi pada nilai atau sekadar menyelesaikan pendidikan. Ilmu harus terus kita kembangkan. Ketika pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki mampu membantu orang lain, memberikan solusi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat, maka ilmu itu menjadi jauh lebih bermakna. Sebagai calon perawat, mahasiswa harus terus belajar karena perkembangan ilmu dan pelayanan kesehatan juga tidak pernah berhenti,” tambah Ns. Mukhammad Toha, S.Kep., M.Kep.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan karakter pendidikan vokasi keperawatan. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga dituntut memiliki kedisiplinan, integritas, empati, tanggung jawab, serta kemampuan untuk terus memperbarui kompetensinya. Proses pendidikan tidak berhenti ketika pembelajaran di kelas selesai, tetapi berlanjut hingga mahasiswa mampu menunjukkan kompetensinya dan siap memasuki kehidupan profesional.
Semangat itu semakin terasa ketika kegiatan dilanjutkan dengan istighosah dan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. Nurul Huda, S.Kep., Ners., M.Si. Seluruh peserta memanjatkan doa untuk kebaikan negeri, kemajuan institusi, kelancaran proses pendidikan, serta secara khusus bagi peserta yang akan kembali berjuang mengikuti retaker Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) D3 Keperawatan.
Doa dipanjatkan agar para peserta diberikan kesehatan, ketenangan, kemudahan dalam belajar, kelancaran ketika menghadapi ujian, serta memperoleh hasil terbaik. Momen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perjuangan mencapai kompetensi profesional tidak hanya menjadi urusan individu, tetapi juga memperoleh dukungan moral dan spiritual dari lingkungan akademiknya.
Salah satu peserta yang akan mengikuti retaker UKOMNAS D3 Keperawatan, Adecco, mengaku doa bersama tersebut memberikan tambahan semangat dan ketenangan untuk kembali berjuang menghadapi uji kompetensi.
“Bagi saya, doa bersama ini memberikan semangat dan ketenangan tersendiri untuk kembali berjuang menghadapi UKOMNAS. Kami tentu tetap harus mempersiapkan diri dengan belajar dan berlatih sebaik mungkin, tetapi mengetahui bahwa dosen, tenaga kependidikan, dan teman-teman ikut mendoakan kami menjadi dukungan yang sangat berarti. Semoga pada kesempatan ini kami diberikan kelancaran dan dapat memperoleh hasil terbaik,” ungkap Adecco.
Bagi Adecco, kesempatan mengikuti kembali UKOMNAS juga menjadi bagian dari proses belajar untuk melakukan evaluasi diri dan mempersiapkan kompetensi dengan lebih baik. Semangat untuk bangkit dan mencoba kembali menjadi salah satu nilai yang selaras dengan pesan Hari Santri tentang ketekunan dalam menuntut ilmu.
“Menjadi retaker bukan berarti perjuangan berhenti. Justru ini menjadi kesempatan bagi kami untuk mengevaluasi diri, memperbaiki apa yang masih perlu ditingkatkan, dan belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Saya ingin menjadikan proses ini sebagai bagian dari perjalanan untuk menjadi perawat yang kompeten dan nantinya mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tambah Adecco.
Bagi D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan Universitas Jember, perhatian kepada mahasiswa hingga tahap penyelesaian pendidikan dan pencapaian kompetensi merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem akademik yang mendukung keberhasilan mahasiswa. Pembelajaran, pendampingan, penguatan kompetensi, persiapan menghadapi uji kompetensi, serta dukungan moral dan spiritual menjadi unsur yang saling melengkapi.
Dalam konteks Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi terbaru, upaya membangun lingkungan pendidikan yang mendukung mahasiswa menyelesaikan proses studinya memiliki relevansi dengan IKU 1, Angka Efisiensi Edukasi Perguruan Tinggi atau AEE PT. Indikator ini mengukur tingkat keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu sesuai masa studi standar. Untuk program Diploma Tiga, masa tempuh kurikulum standar adalah enam semester.
Dukungan terhadap peserta retaker UKOMNAS tentu tidak dapat dimaknai sebagai capaian IKU 1 secara langsung. Namun, perhatian institusi terhadap mahasiswa hingga mampu menyelesaikan rangkaian pendidikan dan mencapai kompetensi yang dibutuhkan merupakan bagian dari ekosistem pendidikan yang diarahkan untuk menunjang keberhasilan studi mahasiswa.
Pada saat yang sama, upaya mempersiapkan mahasiswa hingga memiliki kompetensi profesional juga memiliki keterkaitan dengan IKU 2, yang mengukur proporsi lulusan program diploma dan sarjana yang bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan pendidikan. Dalam konteks pendidikan keperawatan, kesiapan kompetensi dan keberhasilan melalui tahapan uji kompetensi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan untuk memasuki dunia profesional.
Dengan demikian, doa bagi peserta retaker UKOMNAS dalam Peringatan Hari Santri Nasional bukan ditempatkan sebagai satu-satunya bentuk fasilitasi kelulusan. Doa menjadi dukungan moral dan spiritual yang berjalan bersama ikhtiar akademik, proses belajar, pendampingan, latihan, dan persiapan yang dilakukan mahasiswa untuk mencapai kompetensi terbaiknya.
Perspektif mahasiswa aktif juga memperkuat makna kegiatan tersebut. Tio Yahya, mahasiswa D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan Universitas Jember, menilai semangat Hari Santri relevan dengan perjalanan mahasiswa dalam menuntut ilmu dan mempersiapkan diri sebagai calon tenaga kesehatan.
“Peringatan Hari Santri hari ini mengingatkan saya bahwa menjadi mahasiswa juga merupakan bagian dari proses menuntut ilmu. Sebagai mahasiswa keperawatan, kami tidak cukup hanya belajar agar lulus, tetapi juga harus membentuk karakter, disiplin, dan terus meningkatkan kompetensi supaya ilmu yang kami peroleh nantinya benar-benar bermanfaat bagi pasien dan masyarakat,” ungkap Tio Yahya.
Menurut Tio, doa bersama bagi peserta retaker UKOMNAS juga memberikan pelajaran tentang arti kebersamaan, kegigihan, dan kesiapan menghadapi berbagai proses dalam pendidikan.
“Melihat kakak-kakak yang kembali berjuang menghadapi UKOMNAS memberikan pelajaran bagi kami bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu mudah. Ada proses, usaha, evaluasi, dan keberanian untuk mencoba kembali. Hal itu juga menjadi motivasi bagi kami sebagai mahasiswa aktif untuk belajar lebih baik dan mempersiapkan diri sejak sekarang,” tambah Tio Yahya.
Semangat belajar, peningkatan kompetensi, dan persiapan memasuki kehidupan profesional tersebut memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goal 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya Target 4.4 yang mendorong peningkatan keterampilan relevan, termasuk keterampilan teknis dan vokasional, untuk mendukung pekerjaan, pekerjaan layak, dan kewirausahaan.
Bagi pendidikan vokasi keperawatan, keterkaitan tersebut terlihat melalui proses pendidikan yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi mahasiswa agar mampu memasuki dunia profesional. Dalam konteks ini, SDG 4 juga beririsan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya Target 8.5 yang mendorong kesempatan memperoleh pekerjaan penuh, produktif, dan layak.
Keterkaitan keduanya dapat dimaknai melalui proses yang berkesinambungan. Pendidikan berkualitas memperkuat pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi yang terbentuk kemudian menjadi modal bagi lulusan untuk memasuki kehidupan profesional dan berkontribusi melalui pekerjaan yang produktif dan layak.
Setelah istighosah dan doa bersama, suasana religius berpadu dengan semangat kebangsaan ketika seluruh peserta bersama-sama melantunkan Mars Hari Santri dan lagu Syubbanul Wathon. Lantunan tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan, nilai religius, kecintaan kepada tanah air, dan semangat pengabdian dapat tumbuh berdampingan di lingkungan pendidikan tinggi.
Bagi mahasiswa keperawatan, nilai tersebut memiliki makna tersendiri. Menjadi perawat tidak hanya memerlukan penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga karakter yang kuat, empati, integritas, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap sesama. Semangat santri untuk tekun menuntut ilmu, tidak mudah menyerah, serta mengabdikan pengetahuan menjadi nilai yang dapat dibawa mahasiswa dalam proses membentuk dirinya sebagai calon tenaga keperawatan profesional.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan Universitas Jember akhirnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi bahwa pendidikan merupakan perjalanan untuk membentuk manusia pembelajar, yaitu manusia yang tidak hanya mengejar kelulusan, tetapi terus bertumbuh dalam ilmu, kompetensi, karakter, dan kebermanfaatan.
Dari Kampus Kota Pasuruan, semangat santri diterjemahkan melalui ketekunan belajar, keberanian untuk terus berjuang, ikhtiar mencapai kompetensi, kekuatan doa, dan pengabdian. Semangat tersebut diharapkan membentuk calon perawat yang tidak hanya mampu menuntaskan pendidikan, tetapi juga siap membawa ilmu dan keterampilannya menuju dunia profesional serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.



