Status gizi buruk pada balita yang sudah dikhitan berisiko mengalami infeksi saluran kemih (Kose et al., 2013). Asupan buah dan sayuran yang kurang dapat beresiko menyebabkan kehilangan air dan infeksi mikroba sehingga memperlambat penyembuhan luka (Zhang et al., 2023). Permasalahan kesehatan pada anak setelah khitan di kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember yaitu anak dan orangtua seringkali menganggap mengonsumsi sayuran, buah, daging, ikan, dan telur dapat mengakibatkan luka khitan semakin bertambah parah dan sulit untuk sembuh. Banyak orangtua yang memberikan makanan pada anak yang sudah khitan berupa makanan nasi, berbagai jenis makanan ringan yang kurang mengandung vitamin dan gizi. Sehingga hal ini menyebabkan proses penyembuhan luka setelah khitan pada anak sangat lama. Dampak lainnya adalah berisiko terjadi infeksi sekunder lain yang pada akhirnya semakin memperberat atau memperlama masa penyembuhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi daging tanpa lemak merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat baik, serta menyediakan profil asam amino seimbang yang memenuhi kebutuhan fisiologis manusia. Untuk meminimalkan risiko kesehatan, disarankan agar konsumsi daging dibatasi hingga 500 gram per minggu (Asan Medical Center. 2025). Hasil penelitian lain menganjurkan mengonsumsi 5-9 porsi buah (sekitar 150 g per porsi) dan sayuran (sekitar 75 g per porsi) setiap hari (Limon-Miro et al., 2017). Hal ini dapat dicapai dengan menyertakan setidaknya dua piring beragam jenis sayuran dalam setiap waktu makan yang diolah dengan berbagai cara seperti salad, atau tumisan serta mengonsumsi 1-2 porsi buah setiap hari. Porsi buah tersebut sebaiknya dibagi menjadi 1-2 sajian, yang masing-masing besarnya kira-kira seukuran satu buah apel, guna mengontrol asupan gula (Asan Medical Center. 2025).
Salah satu solusi untuk mengatasi kurangnya konsumsi sayuran, buah, dan protein hewani yaitu dengan pengelolaan gizi pascaoperasi dalam mendukung pemulihan, meminimalkan komplikasi, dan meningkatkan hasil jangka Panjang. Perawatan nutrisi pasca operasi yang berpusat pada tiga tujuan utama: mendukung penyembuhan luka melalui asupan protein berkualitas tinggi, menjaga status gizi optimal untuk mencegah kekurangan gizi, dan mempromosikan kebiasaan gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko kambuh. Strategi pola makan pascaoperasi berfokus pada beberapa komponen kunci: memastikan hidrasi yang memadai untuk proses metabolisme dan perbaikan jaringan, mengonsumsi makanan seimbang yang kaya akan sayuran dan buah-buahan segar untuk meredam stres oksidatif, menyertakan biji-bijian utuh guna mendukung proses penyembuhan secara keseluruhan, serta menjaga asupan protein berkualitas tinggi yang cukup dari sumber seperti ikan, daging, dan produk susu untuk membantu perbaikan jaringan dan pemulihan sistem kekebalan tubuh. Pasien juga disarankan untuk menghindari alkohol, membatasi lemak jenuh, serta mengurangi konsumsi makanan yang asin, manis, dan diasap guna meminimalkan peradangan. penerapan rencana pola makan yang dipersonalisasi tetap menjadi hal penting untuk mengoptimalkan hasil pemulihan pada pasien (Kim et al., 2025).

