MOJOKERTO – Sebanyak 80 kader kesehatan dari Desa Karangjeruk, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengikuti pelatihan intensif bertajuk “Srikandi Sehat: Pelatihan Kader Kesehatan Desa Karangjeruk untuk Deteksi Kehamilan Risiko Tinggi dalam Akselerasi Penurunan Maternal Mortality Rate Berbasis Agronursing”. Kegiatan yang berlangsung pada 2–6 Juli 2026 ini digagas oleh tim dosen Departemen Keperawatan Maternitas dan Anak, Prodi D3 Keperawatan (Kampus Kota Pasuruan) Fakultas Keperawatan Universitas Jember (UNEJ), dengan ketua pengabdi R.A. Helda Puspitasari, S.Kep., Ns., M.Kep. Program ini didanai melalui Hibah Internal UNEJ Skema Mengabdi di Desa Asal, sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) nasional.

Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh peran strategis kader kesehatan sebagai ujung tombak deteksi dini di tingkat masyarakat. Kedekatan mereka dengan warga menjadikan kader sebagai jembatan vital antara layanan kesehatan formal dan ibu hamil di pedesaan, mulai dari edukasi, pemantauan kondisi kehamilan, hingga pendampingan rujukan ke fasilitas kesehatan.
Selama lima hari, peserta mendapatkan pemaparan komprehensif mengenai faktor risiko kehamilan, sekaligus dilatih secara teknis menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR). Instrumen skrining ini dipilih karena kesederhanaan dan efektivitasnya dalam mengenali tanda bahaya sejak dini. Rangkaian acara dikemas secara interaktif melalui demonstrasi, diskusi kasus, dan simulasi praktik langsung, memastikan kader tidak hanya memahami teori, tetapi juga mahir mengaplikasikannya di lapangan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan kompetensi peserta secara objektif.

Ketua Tim Pengabdi, R.A. Helda Puspitasari, S.Kep., Ns., M.Kep., menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab tantangan riil di lapangan sekaligus memperkuat sistem peringatan dini di tingkat desa.
“Kader adalah mata dan telinga pertama kita di desa. Dengan bekal skrining menggunakan KSPR dan pemahaman risiko yang matang, mereka bisa menyelamatkan nyawa ibu dan bayi sebelum kondisi memburuk. ‘Srikandi Sehat’ bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi untuk membangun sistem deteksi dini berbasis masyarakat yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Helda.
Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif dalam setiap sesi. Salah satu kader menyampaikan dampak langsung pelatihan bagi tugas pendampingan di dusun.

“Sebelumnya kami sering bingung membedakan kehamilan normal dan berisiko. Setelah latihan KSPR dan simulasi pendampingan, kami jadi lebih percaya diri mendata dan mengarahkan ibu hamil di wilayah kami. Kami siap menjadi garda terdepan agar tidak ada lagi ibu yang terlambat dirujuk,” ungkap beliau.
Melalui program ini, tim berharap terlahir relawan “Srikandi Sehat” yang tanggap, terampil, dan berdaya. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menurunkan AKI di Karangjeruk, tetapi juga menjadi model percontohan penguatan sistem kesehatan desa yang dapat direplikasi di wilayah agronursing lainnya. Sinergi antara akademisi, kader, dan masyarakat menjadi kunci mewujudkan generasi sehat yang dimulai dari perlindungan optimal bagi ibu hamil.