JEMBER, 29 April 2026– Menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin dinamis, kolaborasi antarlembaga pendidikan menjadi kunci utama dalam mencetak tenaga kesehatan (nakes) yang andal. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang berfokus pada penyelenggaraan Uji Kompetensi berbasis Komputer atau Computer Based Test (CBT).
Bertempat di Gedung Fakultas Keperawatan Universitas Jember, enam lembaga pendidikan secara resmi menjalin kemitraan strategis. Institusi tersebut meliputi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Jember, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy, Fakultas Kesehatan Universitas Nurul Jadid, Politeknik Kesehatan Jember, dan Akademi Kebidanan Dharma Praja Bondowoso.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Jember, Dr. Rondhianto, S.Kep., Ns., M.Kep., menegaskan bahwa kerja sama ini berawal dari pemenuhan kebutuhan vital terhadap fasilitas CBT yang memadai. Menurutnya, uji kompetensi merupakan gerbang penentu bagi lulusan nakes untuk mendapatkan sertifikasi standar nasional.
"Kerja sama ini memang diawali oleh kebutuhan akan fasilitas CBT demi kelancaran uji kompetensi. Namun, dalam perjalanannya, sinergi ini memiliki potensi besar untuk berkembang ke bidang lain. Selain untuk pengembangan institusi dan kualitas lulusan, tidak menutup kemungkinan kolaborasi ini akan menyentuh ranah penguatan Tridharma Perguruan Tinggi secara lebih luas," ujar Dr. Rondhianto.

Sinergi ini juga disambut positif oleh para mitra. Joko Pranoto, S.Kep., Ns., M.Kes., FISQua, dari Akademi Kebidanan Dharma Praja Bondowoso, yang hadir mewakili institusi mitra, menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah jawaban atas persaingan global di masa depan. Ia menekankan bahwa standardisasi kompetensi melalui sistem CBT yang terintegrasi akan memberikan dampak langsung pada kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
"Harapan kami jelas, melalui MoU penyelenggaraan uji kompetensi berbasis komputer ini, kita dapat memastikan bahwa setiap lulusan memiliki kualifikasi yang terstandarisasi secara nasional. Selain itu, kami berharap kemitraan ini menjadi pintu masuk bagi kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat guna meningkatkan mutu pendidikan tinggi kesehatan kita," ungkap Joko Pranoto.

Pentingnya kolaborasi ini bukan sekadar urusan teknis fasilitas, melainkan bentuk adaptasi kolektif institusi pendidikan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif. Dengan berbagi sumber daya dan keahlian, diharapkan hambatan-hambatan dalam proses kelulusan nakes dapat diminimalisir.
Acara inti ditandai dengan prosesi penandatanganan berkas MoU oleh pimpinan dari masing-masing instansi. Suasana hangat dan optimisme menyelimuti sesi foto bersama yang menjadi penutup rangkaian acara tersebut. Langkah ini menjadi tonggak baru bagi pendidikan kesehatan di wilayah Jawa Timur untuk terus bersatu dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa.






































