Fakultas Keperawatan bersama dengan Fakultas Teknik Pertanian Universitas Jember Tanggap dan Aktif Tanggulangi Stunting

Penanganan kondisi tinggi badan anak yang pendek dan tidak sesuai dengan usianya atau yang biasa disebut stunting saat ini menjadi perhatian pemerintah RI, khususnya Kementerian Kesehatan RI. Penanggulangan stunting tidak hanya menjadi perhatian Kemenkes RI saja, namun Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yaitu salah satunya Universitas Jember yang memiliki kepedulian terhadap masalah kesehatan ini dengan menggalakkan program pengabdian masyarakat yang berhubungan dengan stunting. Seperti program pengembangan desa yang dilakukan oleh 2 dosen Fakultas Keperawatan, Ns. Nuning Dwi Merina, M.Kep dan Ns. Eka Afdi Septiyono, M.Kep., serta dosen dari Fakultas Teknik Pertanian yaitu Ayu Puspita Arum, S.TP., M.Sc yang bertajuk “Keripik Kelor sebagai Produk Unggulan Desa Klampokan, Kecamatan Klabang, Bondowoso” dan berlokasi di Desa Klampokan, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Kegiatan digelar mulai dari persiapan dan perencanaan kegiatan pada bulan September 2019 sampai dengan kegiatan pelatihan (Rabu, 2 Oktober 2019), pemberdayaan masyarakat, monitoring dan evaluasi sampai pemasaran produk pada bulan Oktober 2019.

Sasaran dari kegiatan pengembangan desa ini yaitu anggota PKK, tenaga kesehatan (perawat desa dan bidan desa), serta masyarakat Desa Klampokan.  Salah satu kegiatan yaitu pelatihan untuk membuat produk olahan kripik kelor sebagai camilan bergizi bagi anak di Desa Klampokan. Selain dapat meningkatkan kesehatan, kegiatan diharapkan dapat meningkatkan derajat perekonomian masyarakat dengan menjadikan ide kreatif olahan ini sebagai produk unggulan Desa.

Menurut Kepala Desa Klampokan, Bapak Nurul Hidayat, program kesehatan di desa merupakan hal yang penting untuk dilakukan dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Desa Klampokan. “Saya mendukung penuh kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Jember ini. Dari kegiatan yang dilakukan dari awal sampai akhir memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat kami dan semoga dapat berlanjut dan dijalankan secara mandiri oleh masyarakat”, tutur Bapak Nurul yang akrab dipanggil bapak kades ini. Pada umumnya, kurang gizi dan stunting disebabkan oleh keterbatasan ekonomi dan pola asuh yang salah dari orangtua, misalnya ibu yang lebih suka memberikan makanan dan jajanan instan kepada anaknya. Dengan adanya program kegiatan ini diharapkan para ibu menjadi sadar bahwa bahan makanan yang bergizi sebenarnya bisa didapatkan dengan mudah disekitar kita dan dapat diolah dengan mudah pula. “Saya yang awalnya takut untuk memakan kelor karena orang bilang kelor dapat menimbulkan penyakit asma, setelah mengikuti kegiatan ini tidak takut lagi karena sudah tahu bahwa banyak manfaat dari kelor”, ujar salah satu anggota PKK yang mengikuti kegiatan (Tim).

Leave a Reply